celoteh

Kalkulator untuk telephone

Sabtu lalu aku menawarkan fakily project pada suamiku. Menjadi salah satu program kami tiap ahad untuk membuat family project bersama di hari ahad. Lalu beliau berkata, “Ahad ini silaturahim ke uti sama ke uyut hyuk”

Dengan sigap langsung kuiyakan. Mengingat kami belum berlebaran ke sana.

Pagi ini kami segera berkemas, namun ada yang luput kukemas, mainan ghaaziy. Sempat terbayang mungkin dia akan bosan. Namun siapa sangka ia menemukan kalkulator kecil di dashboard mobil.

“Halo, assalamamualaikum, o yayayaya, walaikumussalam” kata ghaaziy lalu berulang-ulang. Dan sesekali seolah-olah sedang ngobrol lewat telephone denganku atau dengan abanya.

Ma syaa Allah. Begini cara ghaaziy supaya tak bosan dalam perjalanan.

Iklan
celoteh

Bermain robot

Salah satu mainan yang sedang digandrungi ghaaziy adalah robot. Robot yang bisa berubah menjadi mobil. Awalnya saat bermain dengan robot ini ia memintaku atau abanya untuk merubahnya dari robot menjadi mobil dan sebaliknya.

Hari ini aku mencoba untuk mengasah kreativitas dan kemandiriannya. Aku diam saat ia memintaku untuk merubah si mobil menjadi robot.

“Ayooo mas ghaaziy coba sendiri yaa” kataku.

Awalnya ia merengek tanda tak setuju, namun aku tetap memberikan support untuk mencoba. Butuh upaya memang bahkan sekali dua kali saking semangatnya bagian tangan atau kaki robot terlepas. Namun dia berhasil menaklukan tantangan kali ini. Masyaa Allah.

celoteh

Level 8 – Menahan Godaan Jajan

Hari ini aku mengajak Ghaaziy untuk berbelanja di supermarket, biasanya aku mengajakya ke pasar tradisional, namun karena ada beberapa bahan dan bumbu yang kucari ternyata dijual di supermarket. Membuatku membulatkan tekad untuk mengajak Ghaaziy dan abanya untuk ikut berbelanja.

Seperti biasa kusodorkan kertas yg akan kubeli, hal ini dimaksudkan supaya aku tak melirik barang lain yang tidak ada dalam list.

Sampai di supermarket, aku mengajak ghaaziy untuk berdoa masuk pasar. Kujelaskan, bahwa supermarket sama kayak pasar, tapi ada AC nya hahaha.

Sesampainya di supermarket, ghaaziy memulih menjadi asisten yang membawa keranjang. Jika di indomart dia hafal apa yang akan diambil, ini berbeda dan ghaaziy tampak antusias, bahkan sempat kepergok beberapa kali memasukkan barang yang tidak ada dalam list.

Sampai di kasir, godaan semakin bertambah. Menuju lorong diujung kasir, terpanpang jajanan jajanan yang cukup menarik ghaaziy, namun ia akhirnya tak kuat dengan godaan sebungkus milo. Ma syaa Allah.

Iya kami sedang berusaha melawan godaan barang-barang yang sebenarnya tidak perlu, tak hanya ghaaziy, akupun juga belajar.

celoteh

Level 8 – Mau Mainan? Nabung dulu Ghaaziy

Siang tadi ghaaziy merengek saat kami melewati toko mainan usai belanja di pasar. Memang ada toko mainan di pertigaan masuk rumah kami, seperti kinderjoy yanh dijual alfamart dekat kasir, terasa menggoda bagi anak anak. Karena jalan satu-satunya tak mungkin aku mencari jalan alternatif. Ghaaziy sudah paham di sana ada banyak mainan. Lalu dengan terpaksa aku alihkan dengan mengajak membeli es krim.

Sesampainya di rumah kujelaskan pada Ghaaziy, jika ingin mainan, ghaaziy harus rajin memasukkan uang ke toples bergambar mainan yang sudah kisediakan. Aku tahu, ini masih susah dipahami ghaaziy, tapi aku berusaha membiasakan.

Ghaaziy tampak kecewa. Lalu kutinggal memasukkan barang-barang pangan hasil belanjaan kami ke lemari pendingin.

Ketika aku hampiri lagi, aku terkejut, ghaaziy sudah berhasil membuka toples, mengeluarkan semua uang yang dikumpul lalu berkata, “Hami ini buat mainan” sambil tersenyum lebar.

Ma syaa Allah.

celoteh

Level 8 – Dua Ribu

Sore ini semarang hujan, alhamdulillah. Allahumma soyyiban nafi’an. Awalnya tadi aku berjanji kepada ghaaziy untuk mengajaknya bermain odong-odong sekalian jalan-jalan sore, qodarulloh hujan menyapa panasnya kota semarang.

Sore tadi kami memutuskan untuk bermain balok, lalu tiba-tiba Ghaaziy menyerahkan piring yang berisi balok-baloknya dan berkata

“Ini hamiii mamam ini”

“Berapa pak harganya” godaku

“Dua ribu” sembari mengacungkan kedua jarinya.

Haha ma syaa Allah, cuma di warung bang ghaaziy takjil sepiring di harga dua ribu.. ma syaa Allah.

celoteh

Level 8 – Bermain jual beli mobil mainan

Ghaaziy hari ini sukses tidak tidur siang, membuatku sedikit kelelahan. Puasa ini detok tubuhku melalui rasa ngantuk yang lumayan berlebihan. Siang tadi kupaksa untuk tak tidur untuk menemani ghaaziy, alhasil kepalaku sedikit pening.

Aku ingin di kasur saja rasanya, ghaaziy mungkin paham jika ak sedikit lemas, dan mengambil mainan mobil-mobilannya. Dia menyusun rapi mobil-mobilannya sambil berhitung, meski dia belum bisa paham berhitung yang sebenarnya.

Lalu aku berinisiatif untuk bermain jual beli.

“Pak pak, beli mobilnya pak”.

“Oyaaaa.. ini? Limaribu..” seolah dia tahu harga yang layak untuk mobilnya.

Kami bermain sampai berulang-ulang. Meski begitu ia tak kunjung mengantuk sampai malam saat tulisan ini dibuat.

celoteh

Level 8 – Ghaaziy dan teman menabung

Sore ini aku memilih untuk mengajak ghaaziy ikut serta untuk belajar thibunnavawi, di rumah salah satu temanku. Sore itu kami juga berniat untuk buka bersama di sana. Sore itu mood ghaaziy kurang bagus.

Sesampainya di sana, guru kami membawa ketiga anaknya. Aku tak tahu ada apa dengan ghaaziy mood yang kurang bagus atau memang dia menyadari perbedaan gender, dia lelaki dan teman-temannya perempuan. Membuatnya sedikit agresif dengan teman barunya.

Namun, saat temanku berinisiatif untuk mengajak bermain bersama Ghaaziy mulai melunak, temanku mengambip toples dan membuat sebuah celengan, sebelumnya sudah kukatakan bahwa aku dan ghaaziy sedang gemar bermain menabung. Kami lalu bermain menabung bersama. Sedikit kaget, ghaaziy yang agresif mulai melunak dan saling bermain bersama dan saling tertawa

celoteh

Level 8 – Rezeki dari Allah untuk Ghaaziy

Bulan ini aku berniat untuk diet buku sementara. Meski ada banyak sekali buku-buku bersliweran yang tak kenal lelah. Hahaha.

Sebenarnya ada satu buku yang kuidamkan untuk menguatkan metode hafalan antara aku dan Ghaaziy. Aku tak bermaksud menggegas dan memaksa ghaaziy untuk hafal, aku hanya mencoba membiasakan sedini mungkin.

Di suplierku qodarulloh memang ada perubahan menejemen, membuat kami menerima slow respon. Aku memcoba memahami, namun qodarulloh buku yang kupesan tak kunjung dapat respon, minimal chat untuk membayar. Lalu aku memutuskan utuk membeli di toko lain, meski kutahu bahwa buku PO pasti harganya lebih miring. Dibeberapa marketplace harga yamh ditawarkan cukup wahh. Lalu kucoba untuk kuurungkan niat, mungkin lain waktu saja.

Kututup gawaiku, lalu tiba-tiba ada teriakan paket dari depan rumah. Betapa terkejutnya aku, buku yg kucari, ternyata suamiku yang memesannya. Ma syaa Allah rezeki buat Ghaaziy.

“Ghaaziy buku ghaaziy udah datang, lewat rejeki Allah yang dititipin ke aba, bilang apa nak?”

“Alhamdulillah, makasih Allah, makasih aba”

Ghaaziy lalu dengan semangat membuka-buka buku yang datang, meski aku tahu benar dia belum paham.